Translate

Minggu, 05 Agustus 2012

Munasabah, Manusia, dan Pluralisme dalam Tafsir al-Ra>zi>


Munasabah, Manusia, dan Pluralisme dalam Tafsir al-Ra>zi>

PENDAHULUAN

Dalam kajian teks keagamaan Islam, tafsir adalah salah satu aspek yang paling penting untuk dikaji dan dipahami. Sebagai salah satu khazanah ilmu pengetahuan Islam, tafsir menduduki posisi yang sangat urgen sekali. Hal ini desebabkan tafsir memiliki fungsi untuk mempelajari kata demi kata dan susunan kalimat ayat-ayat al-Qur’an guna mengetahui maksud Allah dalam memfirmankan ayat-ayat-Nya.[1]
Berdasarkan kepada dasar yang dijadikan patokan dalam menafsirkan al-Qur’an, di dalam istilah ilmu tafsir, tafsir dibagi menjadi dua macam yaitu tafsir bi al-ma’su>r dan tafsir bi al-ra’y. Tafsir bi al-ma’su>r berdasarkan kepada, ayat al-Qur’an lainnya yang semakna dan mengandung penjelasan dari ayat yang dimaksud, berdasarkan kepada hadis-hadis Nabi saw., sahahabat dan tabi’in (generasi umat Islam awal) yang terjamin ke-s}ah}i>h}-annya.[2]
            Sementara itu, tafsir bi al-ra’y berdasarkan kepada ijtihad seorang mufassir dalam menafsirkan suatu ayat.[3] Dan tentu saja ijtihad tersebut bertopang kepada ilmu-ilmu yang bisa dijadikan pijakan dalam menafsirkan al-Qur’an, seperti ilmu bahasa Arab misalnya yang meliputi nah}w, s}arf, bala>gah dan lain sebagainya.[4] Selain itu mufassir harus memenuhi beberapa syarat tertentu yang membuatnya layak dan pantas untuk menafsirkan al-Qur’an dengan ijtihadnya.[5] Dan di antara tafsir semacam ini ialah tafsir Mafa>tih al-Gaib karya seorang mufassir sekaligus mutakallim besar syaikh Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>. Dalam peta sejarah tafsir Fakhr al-Din al-Ra>zi> masuk pada era abad pertengahan. Pada era ini, terjadi perdebatan-perdebatan sengit antarmazhab teologi, seperti Khawarij, Syi’ah, Asy’ariyah, Mu’tazillah dan sebagainya.[6]


ISI

A. Biografi al-Ra>zi>
            Nama lengkapnya adalah Abu> ‘Abd Alla>h[7] Muh}ammad bin ‘Umar bin al-H{usain bin al-H}asan al-Taimi> al-Bakri> al-T}abari> al-Faqi>h al-Sya>fi’i> al-Ra>zi> yang diberi laqab dengan Fakhr al-Di>n.[8] Dia dilahirkan di kota Roy[9] di Thabristan pada tanggal 25 Ramadan tahun 544 H. Dia banyak berguru pada para pembesar ulama di masanya, di antara guru tersebut adalah orangtuanya, sehingga ia menguasai beberapa cabang ilmu dan terkenal dengan ilmu-ilmu tersebut. Dia juga banyak didatangi oleh murid-muridnya dari berbagai tempat.[10]


B. Perjalanan al-Ra>zi> Mencari Ilmu dan Wafatnya
Al-Ra>zi> dikenal sebagai seorang ulama yang ahli di segala bidang ilmu, ini menunjukkan banyaknya bidang ilmu yang digelutinya. Selain itu juga menandakan gurunya yang banyak dan bergudang-gudang buku yang telah habis di bacanya. Di dalam pencarian ilmunya, ia tidak hanya singgah di satu tempat saja. Bermula dari kota kelahirannya Roy, ia kemudian pindah ke Khurasan, lalu ke Bukhara kemudian ke Irak, dan Syam. Tetapi ia paling lama tinggal di negeri Khawarizm lalu kemudian diam menetap di kota Harah sampai wafatnya. Ia pertama kali berguru kepada ayahnya sendiri D{iya>’ al-Di>n yang lebih dikenal dengan gelarnya yaitu Khathib al-Ray.
Setelah ayahnya meninggal dunia, ia berguru kepada al-Kama>l al-Sam’a>ni> walaupun tidak lama. Lalu ia pun kembali ke Roy dan mulai mempelajari ilmu hikmah. Dalam mempelajari ilmu ini ia berguru kepada Majd al-Di>n al-Jabali> salah seorang ulama besar di zamannya. selain ilmu hikmah al-Ra>zi> juga belajar ilmu kalam.[11]
Setelah membaca dan menguasai ilmu-ilmu pokok dan dasar seperti fikih, ushul fikih dan lainnya, barulah ia mulai mempelajari filsafat dan ilmu-ilmu alam lainnya seperti kedokteran, ilmu falak dan kimia. Ia pergi ke Khurasan untuk mempelajari karya-karya Ibn Si>na> dan al-Fara>bi>.[12]
Khawarizm termasuk salah satu tempat yang disingahinya dalam rangka menuntut ilmu. Tetapi tidak seperti sebelumnya dimana ia belajar dengan cara berguru kepada seorang syaikh, di sini ia menuntut ilmu dengan cara langsung berinteraksi dan banyak mengadakan dialog dengan penduduk negeri itu. Banyak sekali tema-tema dialog yang ia pilih dengan penduduk di sana di antaranya tentang ilmu kalam, madzhab dan akidah. Cara seperti ini ia lakukan juga ketika ia singgah di seberang sungai Jihun di Khurasan.
Setelah ia bergelut begitu lama dengan ilmu kalam dan filsafat, ia baru menyadari akan kelemahan metode-metode ilmu tersebut di dalam mencapai kebenaran. Ia pun menyesal karena telah begitu mendalam mempelajarinya. Penyesalannya itu terungkap sebagaimana yang dikutip oleh Ibn S{ala>h}. Ia pernah mendengar al-Qut}b al-T{auga>ni> berkata, bahwa Fakhr al-Di>n al-Ra>zi> mengungkapkan penyesalannya, berkata sambil menangis: “Andaikan aku tidak pernah mempelajari dan bergelut dengan ilmu kalam sebelumnya.[13] Hal yang sama juga disampaikan oleh Ibn Kas}i>r dengan mengutip penjelasan Ibn al-Asi>r yang menerangkan bahwa al-Ra>zi> berkata:
            Aku telah sering menggunakan metode-metode ilmu kalam dan filsafat, dan aku tidak pernah mendapatkan metode tersebut bisa menghilangkan dahaga bagi yang haus dan menyembuhkan rasa sakit orang yang sakit. Dan menurutku sebaik-baiknya metode adalah metode yang disuguhkan al-Qur’an. Bacalah tentang metode is\ba>t dalam firman Allah Yang Maha Pemurah, Yang Bersemayam di atas ‘Arsy“. (QS. 20:5). Juga dalam firman-Nya: “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya“.(QS. 35:10)
            Dan bacalah tentang metode nafy dalam firman-Nya: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia“. (QS. 42:11) dan firman-Nya: “Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (Yang patut disembah)“. (QS. 19:65)[14]

Setelah sakit, al-Ra>zi> kemudian wafat di Harah pada hari Senin tanggal 1 Syawal (‘Idul Fitri) tahun 606 H.[15]

C. Karya-karya al-Ra>zi>
Fakhr al-Di>n al-Ra>zi> adalah salah seorang ulama yang paling hebat dan unggul di zamannya. Ia banyak menguasai berbagai disiplin ilmu seperti tafsir, fikih, ushul fikih, ilmu kalam, hikmah, filsafat, kedokteran, ilmu falak, juga ilmu bahasa. Sehingga dengan keahliannya di berbagai cabang ilmu, banyak sekali karya-karyanya di segala bidang pengetahuan yang dikuasainya. Diantaranya, [16]dalam tafsir adalah karya monumnetalnya yaitu al-Tafsi>r al-Kabi>r atau Mafa>tih} al-Gaib. Selain itu ada juga Tafsi>r al-Fa>tih}ah ditulis secara terpisah dari al-Tafsi>r al-Kabi>r-nya, al-Tafsi>r al-S}agi>r Yang atau Asra>r al-Tanzi>l wa Anwa>r al-Ta’wi>l.
Dalam bidang Ilmu Kalam dan Filsafat, al-Ra>zi> mampu menelurkan karya Niha>yah al-’Uqu>l, Zabdah al-Afka>r wa ‘Umdah al-Naz}a>r, al-T{ari>qah fi> al-Jada>l,  Maba>h}is\ al-Wuju>d wa al-Adam, Maba>his\ al-Jada>l, dan lain-lain. Dalam bidang Kedokteran dan Fisika, ada Muntakhab Tinklusya, al-Nabd}, fi>> al-Handasah, fi> al-Raml, Masa>il al-T}ibb, dan lain-lain. Di bidang kajian hikmah ada Luba>b al-Isya>ra>h, al-Mat}a>lib al-’A<liyah fi> al-Hikmah, Sira>j al-Qulu>b, Syarh} al-Isya>rah, al-Akhla>, dan lain-lain.
Sebagai ahli di bidang Fiqih dan Usul Fiqh, al-Ra>zi> menghasilkan al-Ma’a>lim fi> Us}u>l al-Fiqh, Tanbi>h al-Isya>rah fi> al-Us}u>l, al-Mahs}u>l fi> al-Fiqh, al-Mahs}u>l fi> ‘Ilm Us}ul al-Fiqh, Abt}a>l al-Qiya>s. Mengenai Tauhid juga, al-Ma’a>lim fi Us}u>l al-Di>n, al-Arba’i>n fi> Us}u>l al-Di>n, Tafsi>r Asma>’i AlLa>h al-H}usna>,  Lawa>mi’ al-Bayyina>t fi> Tafsi>r Asma>i Alla>h wa al-S{i>fa>t, al-Qad}a> wa al-Qadr. Serta beberapa kitab lainnya yang belum disebutkan dalam makalah ini.

D. Komentar Para Ulama
Fakr al-Di>n al-Ra>zi> sebagai mufassir besar tidak bisa terlepas dari komentra ulama lainnya. Baik komentar positif maupun negatif.
Dalam T{abaqa>t al-Mufassiri>n al-Daudi> sangat memuji dan mengatakan bahwa al-Ra>zi> adalah seorang yang paling ahli atau mumpuni di bidang ilmu-ilmu akal di zamannya serta ahli di bidang syari’at. Bahkan al-Daudi> mengatakan bahwa al-Ra>zi> salah seorang mujaddid yang diutus Allah di setiap awal abad,[17] sebagaimana bunyi hadits Nabi Saw.[18]
Jika al-Daudi> memuji al-Ra>zi>, maka salah satu tokoh yang mengkritik al-Ra>zi> adalah Syiha>b al-Di>n Abu> Sya>mah dalam kitabnya al-Z|ail. Sebagaimana dikutip oleh Ibn Kas\i>r dalam kitab sejarahnya yang terkenal, al-Ra>zi adalah orang yang sering bersama-sama dan menemani para penguasa ketika itu dan menyenagi keduniaan yang menurut Syihab al-Di>n, karakter sperti ini bukanlah karakter seorang ulama. Oleh karena sifatnya itu, banyak celaan yang dilontarkan kepadanya. Ditambah lagi dengan ucapan-ucapannya yang dianggap tidak sopan, seperti perkataannya ketika menyebut nama Nabi Muhammad saw., dengan sebutan Muhammad al-Ba>di> .[19]

E. Fakhruddin al-Ra>zi> dan Tafsir al-Qur’an
Sebagai seorang ulama besar, ia tidak melupakan al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan sekaligus obyek penelitiannya. Abu Syuhbah mengungkapkan bahwa yang menjadi sebab al-Razi menyusun tafsirnya ialah untuk menjelaskan betapa tingginya hikmah al-Qur’an jika dibandingkan dengan metode filsafat dan ilmu kalam, dan hanya Qur’anlah yang mampu menunjukkan manusia kepada jalan yang benar dengan pasti dan terjaga dari kesalahan.[20]
Ia pun mengutip perkataan al-Ra>zi> yang menunjukkan hal tersebut:
Aku telah mencoba metode-metode ilmu kalam dan filsafat, ternyata tidak aku temukan dari metode-metode tersebut faedah yang aku temukan dalam al-Qur’an. Karena al-Qur’an menunjukkan kepada manusia untuk berserah diri akan keagungan dan kemuliaan Allah Swt. Dan melarangnya untuk lebih jauh tertarik ke jurang pertentangan. Selain itu, al-Qur’an pun menerangkan bahwa akal sehat manusia akan hilang bersamaan dengan semakin tenggelamnya ke dalam pencarian kebenaran dengan metode yang lemah.[21]

 Di dalam tafsirnya, al-Ra>zi> mengerahkan segala pemikirannya untuk membela akidah yang benar dan melawan pemikiran-pemikiran lain yang mencoba menganggu gugat akidah islam yang yang sudah terbukti kebenarannya itu. Karena mereka menggunakan akal dalam berargumen, maka ia pun menggunakan metode yang sama yang digunakan oleh para filosof dan mutakallimin dalam melawan argumen-argumen musuh. Tetapi tentu saja dengan tetap memperhatikan paham ahli sunnah. Selain itu, ia pun menggunakan metode para ilmuwan alam ketika menjelaskan tentang alam semesta ini. Ia menjelaskan tentang bintang-bintang, langit, bumi, hewan-hewan, dan manusia.[22]
Yang menjadi kritikan para ulama dalam metodenya menafsirkan al-Qur’an, karena terkadang terlalu jauh dan menyimpang dari tujuan awal yaitu menerangkan maksud dari setiap ayat-ayat al-Qur’an. Ia sering kali menerangkan dengan panjang lebar kesalahan pendapat dan pemikiran suatu aliran sesat, tetapi hanya dijawab dengan jawaban yang singkat dan ala kadarnya yang sebenarnya tidak sesuai dengan permasalahan yang sebenarnya. Yang memerlukan sanggahan yang sangat detail dan terperinci.[23]
Bisa dikatakan tafsir al-Ra>zi> ini mencakup semua bidang ilmu, mulai dari ilmu kalam, ilmu alam, ilmu bahasa seperti nahwu, balaghah, juga ilmu syari’at seperi fikih, ushul fikih. Hal itu karena memang sesuai dengan tabi’atnya sebagai seorang yang ahli di segala bidang ilmu. Setiap kali ia menemukan hubungan dari lafal al-Qur’an dengan ilmu-ilmu yang dikuasainya, ia akan melakukannya sehingga sering kali tafsirnya tidak sesuai dengan yang seharusnya (untuk menerangkan maksud lafal tersebut dalam ayat al-Qur’an). Maka lebih tepat jika tafsirnya itu disebut sebagai ensiklopedia ilmu pengetahuan yang mencakup segala bidang ilmu. Sehingga tidak aneh kalau Ibn ‘A<t}iyah mengatakan bahwa di dalam kitabnya itu terdapat segala sesuatu kecuali tafsirnya itu sendiri.[24] Walaupun tafsir tersebut banyak yang mengkritik dari segi cara al-Ra>zi> yang terkadang berlebihan dalam menafsirkan suatu ayat, tetapi secara obyektif tafsir tersebut tetap mempunyai kelebihan-kelebihan tersendiri dibandingkan dengan tafsir yang lain.
Di antara kelebihannya ialah isinya yang mencakup segala macam jenis ilmu itu sehingga menyerupai ensiklopedia. Di satu sisi hal tersebut dianggap sebagai kekurangan oleh sebagian ulama tetapi sebagiannya lagi memandang justru hal tersebut merupakan salah satu dari kelebihan yang dimilikinya. Karena secara asasi kitab itu sudah memenuhi syarat untuk disebut kitab tafsir.[25]
Sebagai contoh, kita bisa melihat dari penafsiranya tentang surat al-Fatihah. Surat yang begitu pendek itu bisa menjadi sebuah kitab yang cukup tebal. Walaupun isinya hanya tafsir surat al-Fatihah secara menyendiri yang pada edisi sekarang sudah dimasukkan ke dalam tafsirnya. Isinya ternyata bukan hanya tafsir saja. Di sana pun dibahas segala aspek yang ada kaitannya dengan isi surat tersebut, baik itu aspek bahasa, ilmu kalam (pemikiran), fikih dan lain-lain. Sehingga ia sendiri menyebutkan bahwa dari surat al-FĆ¢tihah ini mengandung 10.000 faedah dan permasalahan yang bisa digali.[26]
Contohnya ketika menafsirkan kalimat ta’a>wuz\, ia sangat dipengaruhi oleh keadaan perpecahan umat Islam saat itu. Sekte-sekte Islam yang sudah jelas sesat itu ia masukkan dalam memaknai berlindung kepada Allah. Jadi yang dimaksud dengan “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk”, ialah berlindung kepada Allah dari segala hal yang dilarang, baik itu yang bersifat keyakinan ataupun amal perbuatan. Dari aspek keyakinan, umat Islam terpecah menjadi sekte-sekte (aliran). Setiap aliran ini mempunyai kesesatan yang berbeda-beda, ada yang karena perbedaan dalam memahami Zat Allah, sifat-sifat-Nya, masalah taqdir dan pemahaman-pemahaman lainnya yang jelas jauh dari pemahaman islam yang benar.[27]
Tentang ta’a>wuz\ ini ditinjau pula dari segi bahasa. Ketika membahas dari segi bahasa ini sampai melebar ke pembagian isim, fi’il malah sampai ke penjelasan yang bersifat filosofis yaitu tentang apa yang menyebabkan fa>’il marfu>’, maf’u>l mans}u>b dan mud}a>f ilaih majru>r dari segi i’rab-nya[28]
Warna fikih bisa dilihat ketika menafsirkan ta’a>wuz\. Dalam hal ini, al-Ra>zi> membagi menjadi 13 permasalahan. Mulai dari kapan waktu membacanya, hukum membacanya, cara membacanya dan semua yang berhubungan dengan permasalahan fikih. Setiap permasalahan itu ia sebutkan setiap ikhtilaf yang ada beserta argumen masing-masing mazhab. Dan ia memilih salah satu yang menurutnya ra>jih.[29]
Warna ilmu kalamnya bisa terlihat ketika ia menafsirkan kata al-‘a>lami>n. Penjelasannya dimulai dari makna secara bahasa, bahwa alam adalah segala yang ada selain Allah. Selanjutna al-Ra>zi> menerangkan pembagian alam menjadi tiga macam menurut pembagian ilmu kalam. Yaitu, al-mutahayiz[30], al-mufaraqa>t[31] dan al-s}ifa>t[32]. Tetapi setelah pembagian itu ia langsung menerangkan bahwa pembagian tersebut bukan berarti menegasikan bahwa tidak ada alam lain kecuali hanya tiga macam itu saja sebagaimana yang dianut oleh para filosof. Ia berargumen bahwa dengan ke-Mahakuasaan-Nya Allah mampu menciptakan segala hal yang mungkin.[33]
Selain itu juga, tafsir ini hampir sama sekali bersih dari kisah-kisah israiliyat. Walaupun memang ada itu hanya untuk menunjukkan kesalahannya saja tidak lebih dari itu.[34] Bisa kita lihat salah satu contohnya tentang komentarnya setelah mencantumkan satu kisah tentang Harut dan Marut dua malaikat yang diturunkan ke bumi untuk menjalani ujian dari Allah (menurut kisah tersebut). Ia mengkomentari bahwa kisah itu betul-betul bukan berasal dari Islam dan sama sekali bertentangan dengan akidah Islam, bahwa Malaikat itu makhluk yang selalu ta’at kepada Allah dan tidak pernah menentang perintah-Nya walaupun hanya sekali.[35]
al-Ra>zi> pun tidak lupa untuk menerangkan kesesuaian antara isi ayat-ayat al-Qur’an dengan suratnya.[36] Satu hal yang harus diketahui tentang tafsirnya ini, yaitu mengenai penulisannya. Ternyata penulisan tafsirnya itu tidak selesai atau dengan kata lain ia tidak sempat menafsirkan seluruh surat al-Qur’an yang terdiri dari 114 surat itu. Sebenranya ia hanya sampai pada surat al-Anbiya>’. Selebihnya, diteruskan oleh Syiha>b al-Di>n al-Khaubi> akan tetapi ia pun tidak sampai menyelesaikannya dengan sempurna. Maka penulisannya kemudian dilanjutkan oleh Najm al-Di>n al-Qa>mu>li>. Sebagaimana menurut penjelasan al-Zaha>bi>.[37]

F. Muna>sabah Menurut al-Ra>zi>
          Dalam makalah ini, penulis tidak mampu memaparkan secara panjang lebar pendapat al-Ra>zi> mengenai muna>sabah. Namun demikian al-Ra>zi> adalah salah satu di antara mufassir klasik yang sangat memperhatikan muna>sabah dalam al-Qur’an.[38] Oleh sebab itu, untuk mendukung pentingnya muna>sabah dan membuktikan bahwa al-Ra>zi> memiliki perhatian khusus terhadap muna>sabah, maka penulis akan menyodorkan beberapa contoh yang ditafsirkan oleh al-Ra>zi> dengan menggunakan metode muna>sabah.
Misalnya saja dalam menafsirkan ayat di bawah ini.[39] Dalam ayat ini al-Ra>zi> mencoba mencari muna>sabah antar kata dalam satu ayat al-Qur’an.
Ų„ِŁ†َّ Ų±َŲØَّŁƒُŁ…ُ Ų§Ł„Ł„َّŁ‡ُ Ų§Ł„َّŲ°ِŁŠ Ų®َŁ„َŁ‚َ Ų§Ł„Ų³َّŁ…َŲ§ŁˆَŲ§ŲŖِ ŁˆَŲ§Ł„ْŲ£َŲ±ْŲ¶َ ŁِŁŠ Ų³ِŲŖَّŲ©ِ Ų£َŁŠَّŲ§Ł…ٍ Ų«ُŁ…َّ Ų§Ų³ْŲŖَŁˆَŁ‰ Ų¹َŁ„َŁ‰ Ų§Ł„ْŲ¹َŲ±ْŲ“ِ ŁŠُŲŗْŲ“ِŁŠ Ų§Ł„Ł„َّŁŠْŁ„َ Ų§Ł„Ł†َّŁ‡َŲ§Ų±َ ŁŠَŲ·ْŁ„ُŲØُŁ‡ُ Ų­َŲ«ِŁŠŲ«ًŲ§ ŁˆَŲ§Ł„Ų“َّŁ…ْŲ³َ ŁˆَŲ§Ł„ْŁ‚َŁ…َŲ±َ ŁˆَŲ§Ł„Ł†ُّŲ¬ُŁˆŁ…َ Ł…ُŲ³َŲ®َّŲ±َŲ§ŲŖٍ ŲØِŲ£َŁ…ْŲ±ِŁ‡ِ Ų£َŁ„َŲ§ Ł„َŁ‡ُ Ų§Ł„ْŲ®َŁ„ْŁ‚ُ ŁˆَŲ§Ł„ْŲ£َŁ…ْŲ±ُ ŲŖَŲØَŲ§Ų±َŁƒَ Ų§Ł„Ł„َّŁ‡ُ Ų±َŲØُّ Ų§Ł„ْŲ¹َŲ§Ł„َŁ…ِŁŠŁ†َ
         
            Dalam menafsirkan potongan ayat Ų«ُŁ…َّ Ų§Ų³ْŲŖَŁˆَŁ‰ Ų¹َŁ„َŁ‰ Ų§Ł„ْŲ¹َŲ±ْŲ“ِ, al-Ra>zi> berkata seperti berikut ini:
ŁƒŁˆŁ†Ł‡ Ų¬Ų§Ł„Ų³Ų§ً Ų¹Ł„Ł‰ Ų§Ł„Ų¹Ų±Ų“ Ł„ŁƒŲ§Ł† Ų°Ł„Łƒ ŁƒŁ„Ų§Ł…Ų§ً Ų£Ų¬Ł†ŲØŁŠŲ§ً Ų¹Ł…Ų§ Ł‚ŲØŁ„Ł‡ ŁˆŲ¹Ł…Ų§ ŲØŲ¹ŲÆŁ‡ ، ŁˆŁ‡Ų°Ų§ ŁŠŁˆŲ¬ŲØ Ł†Ł‡Ų§ŁŠŲ© Ų§Ł„Ų±ŁƒŲ§ŁƒŲ© ، ŁŲ«ŲØŲŖ Ų£Ł† Ų§Ł„Ł…Ų±Ų§ŲÆ Ł…Ł†Ł‡ Ł„ŁŠŲ³ Ų°Ł„Łƒ ، ŲØŁ„ Ų§Ł„Ł…Ų±Ų§ŲÆ Ł…Ł†Ł‡ ŁƒŁ…Ų§Ł„ Ł‚ŲÆŲ±ŲŖŁ‡ ŁŁŠ ŲŖŲÆŲ§ŲØŁŠŲ± Ų§Ł„Ł…Ł„Łƒ ŁˆŲ§Ł„Ł…Ł„ŁƒŁˆŲŖ Ų­ŲŖŁ‰ ŲŖŲµŁŠŲ± Ł‡Ų°Ł‡ Ų§Ł„ŁƒŁ„Ł…Ų© Ł…Ł†Ų§Ų³ŲØŲ© Ł„Ł…Ų§ Ł‚ŲØŁ„Ł‡Ų§ ŁˆŁ„Ł…Ų§ ŲØŲ¹ŲÆŁ‡Ų§ ŁˆŁ‡Łˆ Ų§Ł„Ł…Ų·Ł„ŁˆŲØ
       Wujud Allah yang dianggap duduk di singgasana adalah ungkapan ajnabi (asing), apalagi jika dikaitkan dengan ungkapan sebelum dan sesudah potongan ayat ini. Oleh karena itu, maksud duduk di atas singgasana adalah bukan dalam arti yang sebenarnya, namun dimaknai dengan kesempurnaan kekuasaan Allah dalam mengatur bumi dan langit sehingga potongan ayat Ų«ُŁ…َّ Ų§Ų³ْŲŖَŁˆَŁ‰ Ų¹َŁ„َŁ‰ Ų§Ł„ْŲ¹َŲ±ْŲ“ِ harus di-muna>sabah-kan dengan potongan ayat sebelum dan sesudahnya.
            Contoh lainnya adalah dalam QS al-‘Alaq: 3
Ų®َŁ„َŁ‚َ Ų§Ł„ْŲ„ِŁ†ْŲ³َŲ§Ł†َ Ł…ِŁ†ْ Ų¹َŁ„َŁ‚ٍ
            Al-Ra>zi> menjelaskan bahwa penyabutan al-insa>n pada ayat ini adalah membuktikan adanya kekhususan manusia dibanding makhluk lainnya. Padahal ayat sebelumnya menyebutkan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Pencipta. Dengan demikian, manusia adalah makhluk paling sempurna sehingga dijadikan sebagai contoh. Pengkhususan ini disebabkan mungkin karena memang al-Qur’an diturunkan untuk manusia, atau karena manusia paling sempurna penciptaan atau karena manusia punya fitrah yang luar biasa.
     Selanjutnya ia juga menjelaskan bahwa Allah mengkaitkan antara ‘alaqah dengan al-qalam. Menurutnya manusia diciptakan dari segumpal darah yang diangap kotor dan rendah, kemudian akan menjadi mulia dengan qalam. Oleh sebab itu, manusia yang mulia adalah manusia yang mampu mengangkat derajatnya dengan ilmu. Al-Ra>zi> juga menyatakan bahwa ayat ini menjadi peringatan besar bagi manusia bahwa ilmu adalah sifat manusia yang paling mulia.[40]

G. Manusia Menurut al-Ra>zi>
          Dalam pandangan Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang unik. Keunikannya ada pada karakteristiknya yang khas. Manusia memang beda dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Manusia adalah makhluk yang memiliki akal dan hikmah serta tabiat dan nafsu. Inilah yang membedakan manusia bukan hanya dengan binatang dan tumbuhan, tapi juga dengan malaikat.[41]
Untuk menjelaskan pandangan al-Ra>zi> mengenai manusia, penulis akan mencoba mengambil beberapa contoh penafsirannya mengenai term al-Insa>n dan Khalifah.
Ų®َŁ„َŁ‚َ Ų§Ł„ْŲ„ِŁ†ْŲ³َŲ§Ł†َ Ł…ِŁ†ْ Ų¹َŁ„َŁ‚ٍ
            Al-Ra>zi> menjelaskan bahwa penyabutan al-insa>n pada ayat ini adalah membuktikan adanya kekhususan manusia dibanding makhluk lainnya. Padahal ayat sebelumnya menyebutkan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Pencipta. Dengan demikian, manusia adalah makhluk paling sempurna sehingga dijadikan sebagai contoh. Menurut al-Ra>zi> ada dua kemungkinan yang meyebabkan manusia dalam surat ini disebut secara khusus. Kemungkinan pertama, pengkhususan ini disebabkan karena memang al-Qur’an diturunkan untuk manusia, atau kemungkinan kedua adalah karena penciptaan paling sempurna yang punya fitrah luar biasa.
            Selanjutnya ia juga menjelaskan bahwa Allah mengaitkan antara ‘ala>qah (segumpal darah) dengan al-qalam (pena). Lebih jelas al-Ra>zi> menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah yang diangap kotor dan rendah, kemudian akan menjadi mulia dengan al-qalam (pena). Oleh sebab itu, manusia yang mulia adalah manusia yang mampu mengangkat derajatnya dengan ilmu. Al-Ra>zi> juga menyatakan bahwa ayat ini menjadi peringatan besar bagi manusia bahwa ilmu adalah sifat manusia yang paling mulia.[42]
            Al-Insa>n dalam QS. Al-Ti>n:
Ć“s)s9 $uZĆø)n=y{ z`»|¡SM}$# Ć¾ĆŽĆ» Ƈ`|¡Ć“mr& 5OƒĆˆqĆø)s? Ƈƍƈ  
            Al-Ra>zi> berkata bahwa makna kesempurnaan manusia dalam ayat ini adalah dari segi penciptaan. Sebut saja contohnya bisa makan pakai tangan. Dan kesempurnaan lainnya yang penting adalah memiliki akal yang sehat, pemahaman yang kuat, adab, ilmu. Kesempurnaan selanjutnya adalah kebaikan batin. Singkatnya bahwa al-Ra>zi> menjelaskan bahwa kesempurnaan manusia adalah kesempurnaan pada bentuk ciptaan, akal serta kemurnian batin. Dengan kata lain kesempurnaan akan dicapai dengan tiga aspek, yaitu fisik, akal dan batin.[43]
Sementara term khalifah menjadi penting, karena manusia adalah pemimpin di muka bumi ini. Oleh sebab itu penting jika ditilik bagaimana al-Ra>zi menafsirkan ayat tentang khalifah.
ŁˆَŲ„ِŲ°ْ Ł‚َŲ§Ł„َ Ų±َŲØُّŁƒَ Ł„Ł„Ł…Ł„Ų§Ų¦ŁƒŲ© Ų„ِŁ†ّŁŠ Ų¬َŲ§Ų¹ِŁ„ٌ ŁِŁ‰ Ų§Ł„Ų£Ų±Ų¶ Ų®َŁ„ِŁŠŁَŲ©ً
            Dalam menjelaskan makna khalifah, al-Ra>zi> meyatakan bahwa khalifah adalah yang berperan sebagai pemimpin bagi yang lainnya yang berperan untuk menempati kedudukan Allah di muka bumi, sesuai dengan firman Allah dalam QS. Yunus: 41. “Kemudian Kami jadikan kamu pemimpin di muka bumi ini”. Selanjutnya al-Ra>zi> menjelaskan beberapa pendapat mengenai makna khalifah. Di antaranya yang berkata bahwa khalifah yang dimasud adalah Adam as. Selain itu ada juga yang memaknai keturunan Adam as. Selanjutnyaada juga yang menyakini adalah manusia yang berfungsi untuk menjaga hukum.[44] 

H. Pluralisme Menurut al-Ra>zi>
          Sebelum berlanjut pada penjelasan pluralisme menurut al-Ra>zi>, terlebih dahulu harus dipahami bahwa pluralisme adalah sebuah sunnatullah. Pemaknaan pada pluralisme memang sangat beragam, namun demikian yang terpenting adalah, bagaimana berbagai macam pemahaman tersebut tidak disikapi dengan pra konsepsi yang dibangun dengan sikap skeptis berlebihan. Pada kesempatan kali ini, penulis tidak ingin berpanjang lebar mengenai pemaknaan pada pluralisme itu sendiri. Dalam pada itu, penulis akan mengutip pendapat Jalaluddin Rahmat:
Isme itu adalah sebuah paham. Ekslusivisme, inklusivisme, dan pluralisme, di dalam dunia akademis sebetulnya masih bagian dari religious studies atau pendekatan yang sekular untuk memahami gejala-gejala keberagamaan. Pluralisme itu bisa berupa paham tapi bisa juga disebut orientasi keberagamaan. Kita memang harus bisa membedakan pluralisme dan pluralitas. Pluralistas adalah kenyataan sosial ketika kita menyaksikan adanya masyarakat yang plural atau majemuk. Tapi pluralisme adalah sebuah paham dalam religious studies.[45]

            Zuly Qadir menyebutkan bahwa pluralisme adalah tidak bermakna bahwa semua agama hendak disatukan dalam sebuah agama tunggal.[46] Menurut Fuad Fanani sendiri menyatakan bahwa pluralisme merupakan faktor pendorong dalam menjalankan kerjasama dan keterbukaan, sebagaimana telah dinyatakan dalam QS al-Hujrat: 13-14. Fuad Fanani menegaskan, ayat ini sebagai penjelas bahwa pluralitas adalah “kebijakan Tuhan” sehingga manusia saling mengetahui dan bekerja sama.[47]
            Dengan mengutip pendapat Amin Abdullah, Pradana Boy ZTF menegaskan bahwa kesadaran dan perhatian al-Qur’an atas pluralisme agama juga diwujudkan dalam ketiadaaan wajibnya dalam al-Qur’an kepada manusia untuk memeluk agama atau tidak seperti dalam QS. al-Baqarah: 2: 256.[48]
w on#tĆø.Ǝ) ĆŽĆ» ƈƻĆÆƏe$!$# ( s% tĆ»¨Ć¼t6¨? ĆŸĆ“©9$# z`ƏB ƄcƓxƶĆø9$# 4 `yJsĆ¹ ƶĆ ĆæƵ3tƒ ƏNqĆ¤Ć³»©Ćœ9$$Ǝ/ -ƆƏB÷sĆ£ƒur «!$$Ǝ/ Əs)sĆ¹ y7|¡Ć“JtGĆ³$# ƍourĆ³Ć£ĆØĆø9$$Ǝ/ 4s+ĆøOĆ¢qĆø9$# Ÿw tP$|ƁƏĆæR$# $olm; 3 ĀŖ!$#ur Ć¬Ć¬ĆĆæxœ Ć®LƬƎ=tƦ ƇƋƎƏƈ
Artinya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah: 256)

          Mengenai QS. al-Baqarah ini, al-Ra>zi> mengutip pendapat Abu> Muslim dan al-Qafal. Pemaksaan dalam beragama adalah sesuatu yang menyalahi sunnah Allah. Karena dunia ini adalah wadah untuk menguji dan mencoba. Oleh sebab itu ketika, seseorang melakukan pemaksaan pada agama, maka dia telah merusak tatanan dan sunnah Allah tersebut. Karena Allah sendiri berfirman dalam ayat lain
ŁˆَŁ„َŁˆْ Ų“َŲ§Ų” Ų±َŲØُّŁƒَ Ł„Ų¢Ł…َŁ†َ Ł…َŁ† ŁِŁ‰ Ų§Ł„Ų£Ų±Ų¶ ŁƒُŁ„ُّŁ‡ُŁ…ْ Ų¬َŁ…ِŁŠŲ¹ًŲ§ Ų£َŁَŲ£َŁ†ŲŖَ ŲŖُŁƒْŲ±ِŁ‡ُ Ų§Ł„Ł†Ų§Ų³ Ų­ŲŖŁ‰ ŁŠَŁƒُŁˆŁ†ُŁˆŲ§ْ Ł…ُŲ¤ْŁ…ِŁ†ِŁŠŁ†َ
        Dengan demikian kekerasan dan kebencian dalam beragama adalah sesuatu yang dibenci dan dilarang oleh Allah. Karena keberagamaan tidak boleh dilakukan dengan paksaan, maka wajar kalau Allah sebenarnya secara tersirat menyampaikan bahwa keberimanan bukanlah milik seorang yang beragama Islam saja, melainkan juga umat-umat yang lain, sehingga dibutuhkan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap pemeluk agama lain. Oleh sebab itu tidak salah jika Allah menjadikan rahmat sebagai pondasi beragama sebagaimana QS. Al-Anbiya’: 107.
$tBur š»oYĆ¹=yƶr& žwƎ) ZptHĆ“qy šĆŗĆ¼ĆJn=»yĆØĆ¹=Əj9 ƇƊƉƐƈ

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Dalam tafsir al-Ra>zi> dijelaskan, sosok Rasul adalah seorang yang peduli dengan kesulitan orang lain, sehingga beliau adalah sosok yang selalu berusaha membawa orang lain pada segala kebaikan. Sosok Nabi Muhammad bagaikan Dokter yang suka menolong, bagaikan seorang Bapak atau Ayah yang sangat penyayang. Seorang dokter yang suka menolong akan selalu berusaha untuk menyembuhkan setiap penyakit yang muncul walupun itu sulit untuk dilakukan, namun ia akan selalu berusaha untuk meringankannya. Dan seorang ayah yang penyayang akan menjadi pionir yang terdepan untuk mengajarkan adab maupun memberikan pencerahan pada anaknya.[49]
Keterbukaan pemahaman al-Ra>zi> terhadap perbedaan agama juga terlihat dalam tafsir ayat di bawah ini.
Ų„ِŁ†َّ Ų§Ł„َّŲ°ِŁŠŁ†َ Ų¢َŁ…َŁ†ُŁˆŲ§ ŁˆَŲ§Ł„َّŲ°ِŁŠŁ†َ Ł‡َŲ§ŲÆُŁˆŲ§ ŁˆَŲ§Ł„Ł†َّŲµَŲ§Ų±َŁ‰ ŁˆَŲ§Ł„ŲµَّŲ§ŲØِŲ¦ِŁŠŁ†َ Ł…َŁ†ْ Ų¢َŁ…َŁ†َ ŲØِŲ§Ł„Ł„َّŁ‡ِ ŁˆَŲ§Ł„ْŁŠَŁˆْŁ…ِ Ų§Ł„ْŲ¢َŲ®ِŲ±ِ ŁˆَŲ¹َŁ…ِŁ„َ ŲµَŲ§Ł„ِŲ­ًŲ§ ŁَŁ„َŁ‡ُŁ…ْ Ų£َŲ¬ْŲ±ُŁ‡ُŁ…ْ Ų¹ِŁ†ْŲÆَ Ų±َŲØِّŁ‡ِŁ…ْ ŁˆَŁ„َŲ§ Ų®َŁˆْŁٌ Ų¹َŁ„َŁŠْŁ‡ِŁ…ْ ŁˆَŁ„َŲ§ Ł‡ُŁ…ْ ŁŠَŲ­ْŲ²َŁ†ُŁˆŁ†َ
            Sebelum melakukan penafsiran ayat ini, al-Ra>zi> memeaparkan terlebih dahulu perbedaan yang ada dalam beberapa term kunci. Sebagaimana dikatahui  bahwa qira>’ah yang masyhur adalah ha>du>”. Sementara menurut al-D}ah}h}a>k dan Muja>hid membacanyaha>dau”. Selain itu, term kunci selanjutnya adalah qira>’ah yang dikenal pada kata “al-s}a>bi’i>n atau al-s}a>bi’u>n”. Na>fi’, Syaibah, dan al-Zuhri> membacanya “al-s}a>bi>na” atau “al-s}a>bu>n”. Adapun menurut al-‘Umri> menggunakan hamzahal-s}a>bi’i>na” atau ”al-s}sa>bi’u>na. Sedangkan Abu> Ja’far mengganti hamzah dengan ya’.
Oleh sebab itu ada beberapa permasalahan yang muncul. Jika hamzah dibuang maka makna yang terkandung terambil dari kata s}aba>-yas}bu> yang artinya adalah jika condong pada sesuatu maka ia mencintai dan menyukainya. Namun yang paling terkenal adalah bacaan dengan menggunakan hamzah karena memiliki makna keluar dari di>n yang satu ke di>n yang lain.
Penafsiran ayat ini berbeda pendapat diakibatkan oleh lafal “inna allaz\i>na a>manu> yang dilanjutkan dengan dengan man a>mana bi Alla>h wa al-yaum al-a>khir”.[50] Oleh sebab itu, al-Ra>zi> mengutip pendapat Ibn ‘Abba>s,
Ų„Ł† Ų§Ł„Ų°ŁŠŁ† Ų¢Ł…Ł†ŁˆŲ§ Ł‚ŲØŁ„ Ł…ŲØŲ¹Ų« Ł…Ų­Ł…ŲÆ ŁˆŲ§Ł„Ų°ŁŠŁ† ŁƒŲ§Ł†ŁˆŲ§ Ų¹Ł„Ł‰ Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ† Ų§Ł„ŲØŲ§Ų·Ł„ Ų§Ł„Ų°ŁŠ Ł„Ł„ŁŠŁ‡ŁˆŲÆ ŁˆŲ§Ł„Ų°ŁŠŁ† ŁƒŲ§Ł†ŁˆŲ§ Ų¹Ł„Ł‰ Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ† Ų§Ł„ŲØŲ§Ų·Ł„ Ų§Ł„Ų°ŁŠ Ł„Ł„Ł†ŲµŲ§Ų±Ł‰ ŁƒŁ„ Ł…Ł† Ų¢Ł…Ł† Ł…Ł†Ł‡Ł… ŲØŲ¹ŲÆ Ł…ŲØŲ¹Ų« Ł…Ų­Ł…ŲÆ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ Ų§Ł„Ų³Ł„Ų§Ł… ŲØŲ§Ł„Ł„Ł‡ ŁˆŲ§Ł„ŁŠŁˆŁ… Ų§Ł„Ų¢Ų®Ų± ŁˆŲØŁ…Ų­Ł…ŲÆ ŁŁ„Ł‡Ł… Ų£Ų¬Ų±Ł‡Ł… Ų¹Ł†ŲÆ Ų±ŲØŁ‡Ł…
Artinya:
            Sesungguhnya orang-orang yang beriman sebelum diutusnya Muhammad dan orang-orang yang ada dalam agama batil seperti Yahudi dan Nasrani kemudian beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka bagi mereka ganjaran dari Tuhan mereka.

     Selain itu, al-Ra>zi> juga mengutip perkataan Sufya>n al-S|aur, bahwa lafal “inna allaz|i>na a>manu>” bermakna orang munafik. Oleh sebab itu, artinya seperti berikut: “Sesungguhnya orang-orang munafik, orang Yahudi, Nasrani dan shabi’in ketika beriman secara hakiki kepada Allah dan hari akhir serta melakukan amal shaleh, maka mendapat ganjaran dari Tuhan mereka”
            Pendapat terakhir, yaitu mutakallim, orang yang beriman secara hakiki pada Muhammad serta berpegang teguh dengan keimanan tersebut.
{ Ų„ِŁ†َّ Ų§Ł„Ų°ŁŠŁ† Ų”Ų§Ł…َŁ†ُŁˆŲ§ْ } Ł‡Ł… Ų§Ł„Ł…Ų¤Ł…Ł†ŁˆŁ† ŲØŁ…Ų­Ł…ŲÆ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ Ų§Ł„ŲµŁ„Ų§Ų© ŁˆŲ§Ł„Ų³Ł„Ų§Ł… ŁŁŠ Ų§Ł„Ų­Ł‚ŁŠŁ‚Ų© ŁˆŁ‡Łˆ Ų¹Ų§Ų¦ŲÆ Ų„Ł„Ł‰ Ų§Ł„Ł…Ų§Ų¶ŁŠ ، Ų«Ł… Ł‚ŁˆŁ„Ł‡ ŲŖŲ¹Ų§Ł„Ł‰ : { Ł…َŁ†ْ Ų”Ų§Ł…َŁ†َ ŲØŲ§Ł„Ł„Ł‡ } ŁŠŁ‚ŲŖŲ¶ŁŠ Ų§Ł„Ł…Ų³ŲŖŁ‚ŲØŁ„ ŁŲ§Ł„Ł…Ų±Ų§ŲÆ Ų§Ł„Ų°ŁŠŁ† Ų¢Ł…Ł†ŁˆŲ§ ŁŁŠ Ų§Ł„Ł…Ų§Ų¶ŁŠ ŁˆŲ«ŲØŲŖŁˆŲ§ Ų¹Ł„Ł‰ Ų°Ł„Łƒ ŁˆŲ§Ų³ŲŖŁ…Ų±ŁˆŲ§ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁŁŠ Ų§Ł„Ł…Ų³ŲŖŁ‚ŲØŁ„ ŁˆŁ‡Łˆ Ł‚ŁˆŁ„ Ų§Ł„Ł…ŲŖŁƒŁ„Ł…ŁŠŁ†[51]           
Pada penafsiran ketiga inilah, penulis melihat bahwa al-Ra>zi> secara tidak langsung menyatakan bahwa pada hakikatnya ada juga orang Yahudi, Nasrani dan Shabi’in yang beriman pada Muhammad, Allah dan hari akhir serta mereka mendapatkan ganjaran dari Tuhan mereka.

PENUTUP

            Dari makalah ini, terlihat bahwa al-Ra>zi> adalah seorang mufassir yang ahli di berbagai bidang ilmu, yang pada akhirnya banyak mendapat kritikan khususnya dalam tafsirnya sendiri. Hal ini disebabkan oleh tafsirnya banyak diisi dengan sesuatu hal yang tidak begitu urgen. Selain itu, al-Ra>zi> adalah seorang mufassir sunni syafi’i yang rasionalis, sehingga tafsirnya banyak dibumbui dengan pemikiran filosofisnya.
            Mengenai muna>sabah, al-Ra>zi> adalah sosok mufassir yang menganggap bahwa al-Qur’an adalah kitab yang sangat teratur sehingga antar kata, antar surat sangat memiliki hubungan yang kuat dan harusnya lebih diperhatikan lagi.
            Mengenai manusia, al-Ra>zi> menekankan bahwa untuk menjadi seorang manusia yang sempurna harus menekankan pada tiga aspek, yaitu aspek fisik yaitu kemampuan untuk memaksimalkan bentuk fisik yang diberikan oleh Allah. Aspek kedua, yaitu aspek akal atau logika. Seorang manusia yang sempurna dan berhasil mengangkat derajatnya adalah orang yang mampu memaksimalkan fungsi akal yang diberikan oleh Allah. Dan aspek ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah kejernihan batin.
            Semetara itu, mengenai perbedaan keyakinan atau pluralitas pemahaman, pada hakekatnya al-Ra>zi> sebagai tokoh mufassir pertengahan telah mencoba menafsirkan ayat-ayat mengenai inklusifisme Islam. Artinya, bahwa al-Ra>zi> telah tegas melarang adanya pemaksaan pada agama. Karena baginya perbedaan adalah sunnah Allah. Dan ketika perbedaan harus dipakasakan pada orang lain, maka dengan sendirinya telah melanggar sunnah Allah Yang Maha Pencipta perbedaan.  Oleh sebab itu, menurut penulis, kitab-kitab lama masih layak untuk dikaji dan dikaitkan dengan isu-isu kontemporer saat ini.


DAFTAR PUSTAKA

Abu> Syuhbah, al-Isra’il>ya>t wa al-Maud}u>’a>t fĆ®> Kutub al-Tafsi>r. Kairo: Maktabah al-Sunnah. 1408 H.

al-Daudi>, T{abaqa>t al-Mufassiri>n, Kairo: Maktabah Wahbah, 1972.

Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib. Lebanon: Da>r al-Fikr, 1981.

Hai’ah al-Tas}h}i>h} Mat}ba’ah al-Ba>hiyah al-Mis}ri>yah, Muqaddimah Tafsir Mafa>tih} al-Gaib, Kairo: Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah, t.th.

Ibn Kas\i>r, al-Bida>yah wa al-Niha>yah,(Beirut: Muassasah al-Ta>rikh al-Arabi>, 1993.

Jalaludin Rakhmat: “Rahmat Tuhan Tidak Terbatas. Dalam http://islamlib.com/id/artikel/rahmat-tuhan-tidak-terbatas/. Ungkapan ini adalah hasil wawancara Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) dengan Jalaluddin Rakhmat.

M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural: Pemetaan atas Wacana Islam Kontemporer . Bandung Mizan, 2000.

Manna>’ al-Qat}t}a>n, Maba>his\ fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n. Riya>d}: Mansyura>t al-‘As}r al-H{adi>s\, 1990.

M. Hasby ash-Shiddieqy. Ilmu-ilmu al-Qur’an. Jakarta: Bulan Bintang. 1993.

Muh}ammad Abd al-‘Az}i>m al-Zarqa>ni>, Mana>hil al-’Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, Beirut: Da>r al-Kutub al-’Ilmi>yah, 1996.

Muh}ammad H{usein al-Z|aha>bi>, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n. Kairo: Maktabah Wahbah. 2003.

Pradana Boy ZTF. Para Pembela Islam: Pertarungan Konservatif dan Progresif di Tubuh Muhammadiyah. Gramata Publishing: 2009.


al-Qift}i>, Ta>rikh al-Hukama>,  Mesir:  Mu’assasah al-Khanji>.  tt.

Syafa’atun Amirzanah dkk, Upaya Integrasi Hermeneutika dalam Kajian Qur’an dan Hadis: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2009.







[1] M. Hasby ash-Shiddieqy, Ilmu-ilmu al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), hlm. 202. Selain itu bisa dilihat Abu> Syuhbah, al-Isra’il>ya>t wa al-Maud}u>’a>t fĆ®> Kutub al-Tafsi>r (Kairo: Maktabah al-Sunnah, 1408 H), hlm. 26.
[2] M. Hasby ash-Shiddieqy, Ilmu-ilmu al-Qur’Ć¢n..., hlm. 202. Lihat juga dalam Muhammad Abu> Syuhbah, al-Isra’il>ya>t wa al-Maud}u>’a>t..., hlm. 43-44. Selain itu, bisa juga dilihat dalam Muh}ammad H{usein al-Z|aha>bi>, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2003), hlm. 163. Atau dalam Manna>’ al-Qat}t}a>n, Maba>his\ fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (Riya>d}: Mansyura>t al-‘As}r al-H{adi>s\, 1990), hlm. 347. Ada juga dalam Muh}ammad Abd al-‘Az}i>m al-Zarqa>ni>, Mana>hil al-’Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, (Beirut: Da>r al-Kutub al-’Ilmi>yah, 1996), hlm. 14
[3] Muh}ammad H{usein al-Z|aha>bi>, al-Tafsi>r wa..., hlm. 265. Muh}ammad ‘Abd al-‘Azi>m al-Zarqa>ni>, Mana>hil al-’Irfa>n fi>...,  hlm. 55.
[4] Muh}ammad ‘Abd al-‘Azi>m al-Zarqa>ni>, Mana>hil al-’Irfa>n fi>...,  hlm. 265.
[5] Muh}ammad ‘Abd al-‘Azi>m al-Zarqa>ni>, Mana>hil al-’Irfa>n fi>...,  hlm. .56. Di antara syarat tersebut adalah: a. Mengetahui hadis-hadis Nabi saw., yang s}ah}i>h}. b. Mengetahui pendapat-pendapat sahabat dalam tafsir al-Qur’an. c. Mengetahui keumuman makna bahasa Arab dengan memperhatikan setiap perubahan makna pada setiap ayat. d. Mengetahui apa yang seharusnya ia tafsirkan dengan merujuk kepada aturan syar’i.
[6] Salahuddin Kafrawi dan Abdul Mustaqim, “Elemen-Elemen Hermeneutika Dalam Tafsir al-Ra>zi>”. Dalam Syafa’atun Amirzanah dkk, Upaya Integrasi Hermeneutika dalam Kajian Qur’an dan Hadis: Teori dan Aplikasi. (Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga, 2009), 62.
[7] Abu> ‘Abd Alla>h adalah kunyah sebagaimana dijelaskan dalam Waffiya>t al-A’ya>n dan Syaz\ara>t al-Za|hab, serta dalam ‘Uyu>n al-‘Anbiya>’. Sementara itu kunyah-nya juga disebut Abu> al-Ma’a>li> , seperti disebut dalam al-Nuju>m al-Za>hirah.  Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib (Lebanon: Da>r al-Fikr, 1981), jilid 1, hlm. 3.
[8] Al-Ra>zi> adalah nisbah dari nama daerah kelahirannya, Roy. Selain itu, al-Ra>zi> juga dinisbahkan ke al-Bakri>, karena ia adalah salah seorang keturunan sahabat Rasulullah sekaligus al-Khulafa’ al-Rasyidu>n yang pertama Abu> Bakr al-S{iddi>q. Lihat dalam al-Daudi>, T{abaqa>t al-Mufassiri>n, (Kairo: Maktabah Wahbah, 1972), hlm. 214. Atau dapat dilihat juga dalam Abu> Syuhbah..., hlm. 133. Atau dalam Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib..., jilid 1, hlm. 3.
[9] Salah satu daerah al-Daila>m dekat dengan Khurasa>n sehingga dinisbatkan pada namanya Ra>zi>.  Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib..., jilid 1, hlm. 3.
                [10] Lihat dalam Muh}ammad H}usein al-Z|aha>bi>, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n..., hlm. 206. dapat juga dilihat dalam al-Maktabah al-Syamilah. Ridwana Media. Ų§Ł„Ł…ŁˆŲ³ŁˆŲ¹Ų© Ų§Ł„Ų¹Ų±ŲØŁŠŲ© Ų§Ł„Ų¹Ų§Ł„Ł…ŁŠŲ©  Global Arabic Encyclopedia http://www.mawsoah.net.
[11] Hai’ah al-Tas}h}i>h} Mat}ba’ah al-Ba>hiyah al-Mis}ri>yah, Muqaddimah Tafsir Mafa>tih} al-Gaib, (Kairo: Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah, t.th), hlm. Pendahuluan.
[12] al-Qift}i>, Ta>rikh al-Hukama>, Mu’assasah al-Khanji>, (Mesir: ttp, t. th), hlm. 291.

[13] Hai’ah al-Tashih Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah, Muqaddimah Tafsir Mafatih,,,. hlm. Pendahuluan, dan dalam al-Daudi>, T{abaqa>t al-Mufassiri>n..., 215
[14] Ibn Kas\i>r, al-Bida>yah wa al-Niha>yah,(Beirut: Muassasah al-Ta>rikh al-Arabi>, 1993), hlm. 68.
[15] Ibn Kasi>r, al-Bida>yah wa al-Niha>yah..., hlm. 67. Muh}ammad H{usein al-Z{aha>bi>, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n..., hlm. 299. Dijelaskan bahwa Ibn Kas\i>r mengutip penjelasan Syiha>b al-Di>n Abu> Sya>mah menyebutkan bahwa sebabnya ialah karena racun yang dimasukkan ke dalam minuman al-Ra>zi> oleh sekte al-Kara>miyah yang bermusuhan dengannya. Mereka sering saling menghujat satu sama lain. al-Ra>zi> sering memperlihatkan kesalahan-kesalahan keyakinan mereka dan mencelanya. Mereka pun naik pitam dan akhirnya berencana untuk membunuhnya dengan memasukkan racun ke dalam minumannya. Dan akhirnya rencana mereka itu berhasil, dan akhirnya al-Ra>zi> pun meninggal dunia.

[16]Hai’ah al-Tashih Mathba’ah al-Bahiyah al-Mishriyah, Muqaddimah Tafsir Mafatih,,,. hlm. Pendahuluan, al-Daudi>, T}abaqa>t al-Mufassiri>n..., hlm. 216, al-Qift}i>, Ta>rikh al-H}ukama>’..., hlm. 292.

[17] al-Daudi>, Ta>rikh al-H{ukama>..., hlm. 214.
[18] “Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini di setiap awal seratus tahun (abad) seorang mujaddid” (HR. Abu> Da>wud dan al-H{a>kim)
[19] Ibn Kas\i>r, al-Bida>yah wa..., hlm. 67.
[20] Muh}ammad Abu> Syuhbah, al-Isra>’ili>ya>t wa al-Maud}u>’a>t..., hlm. 134.
[21] Muh}ammad Abu> Syuhbah, al-Isra>’ili>ya>t wa al-Maud}u>’a>t..., hlm. 134.
[22] Muh}ammad Abd  al-’Az}i>m al-Zarqa>ni>, Mana>hil al-‘Irfa>n..., hlm. 105.
[23] Muh}ammad Abu> Syuhbah, al-Isra>’ili>ya>t wa al-Maud}u>’a>t..., hlm. 34. Juga dalam Muh}ammad H{usein al-Z|aha>bi>, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n..., hlm. 302.
[24] Muh}ammad H{usein al-Z|aha>bi>, al-Tafsi>rr wa al-Mufassiru>n..., hlm. 303. Dan dalam Muh}ammad Abu> Syuhbah, al-Isra>’ili>ya>t wa al-Maud}u>’a>t..., hlm. 134.
[25] Muh}ammad Abu> Syuhbah, al-Isra>’ili>ya>t wa al-Maud}u>’a>t..., hlm. 134.
[26] Lihat Fakhr al-Di>n al-Razi, Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib, (Kairo: Mathba’ah al-Bahiyyah al-Mishriyyah, t. Th), juz 1, hlm. 3.

[27] Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib..., hlm. 3-4.
[28] Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib..., hlm. 53
[29] Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib..., hlm. 59-63
[30]Segala yang menempati ruang, termasuk di dalamnya yang terdiri dari beberapa bagian (al-jism) atau pun yang menyendiri/berdiri sendiri (al-jauhar)
[31] al-Jauhar al-Fard yaitu berupa esensi
[32] al-’Aradh yaitu yang tidak bisa ada kecuali harus bersama yang lain/menempel pada al-jism.
[33] Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib..., hlm. 6.
[34] Muh}ammad Abu> Syuhbah, al-Isra’il>ya>t wa al-Maud}u>’a>t..., hlm. 134.
[35] Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib..., hlm 22, jilid III.  
[36] Manna>’ al-Qat}t}a>n, Maba>h}is\ fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n, (Riyadh: Mansyura>t al-‘As}r al-H{adi>s\, 1990), hal. 368.
[37] Muh}ammad H}usein al-Z|aha>bi>, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n..., hlm. 299-301, Manna>’ al-Qat}t}a>n, Maba>his\ fi> ‘Ulu>m..., hlm. 367-368.
                [38] Baca  Muhammad Husein al-Dzahabi, al-TafiĆ®r wa al-Mufasirun,,,hlm. 209
                [39] Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Mafatih al-Gaib. Al-Maktabah al-Syamilah. Jilid 7, hlm. 127.
                [40] Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>. Mafa>tih} al-Gaib. al-Maktabah al-Sya>milah. Ridwana Media, jilid 17, hlm. 105.
                [41] Jiwa Manusia Menurut Fakhruddin Al-Razi, dalam http://www.insistnet.com/index.php/option=com_content&view=article&id=94:jiwa-manusia-menurut-fakhruddin-al-razi&catid=20:psikologi-islam&itemid=18. Diakses tanggal 28 Januari 2011.
                [42] Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>. Mafa>tih} al-Gaib. Al-Maktabah al-Syamilah. Ridwana Media. Jilid 17, hlm. 105.
[43] Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib..., jilid 33, hlm. 11.
[44] Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>, Tafsi>r Mafa>tih} al-Gaib..., al-Maktabah al-Sya>milah, jilid 1, hlm. 441-442.
                [45]Jalaludin Rakhmat: “Rahmat Tuhan Tidak Terbatas. Dalam http://islamlib.com/id/artikel/rahmat-tuhan-tidak-terbatas/. Ungkapan ini adalah hasil wawancara Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) dengan Jalaluddin Rakhmat,
                [46] Pradana Boy ZTF. Para Pembela Islam: Pertarungan….., hlm. 107.
                [47] Pradana Boy ZTF. Para Pembela Islam: Pertarungan….., hlm. 107.
                [48]  Pradana Boy ZTF. Para Pembela Islam: Pertarungan… hlm. 117. Lihat juga pendapat Amin Abdullah yang mengatakan bahwa al-Qur’an menyadari dan menaruh perhatian akan pentingnya pluralisme agama, dan sampai batas tertentu, perlakuan atau pandangan al-Qur’an terhadapa pluralisme agama cenderung liberal. Lihat dalam Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural: Pemetaan atas Wacana Islam Kontemporer (Bandung Mizan, 2000), hlm. 73.
                [49]  Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>. Mafa>ti>h} al-Gaib…, jilid 8, hlm. 191.
                [50] Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>. Mafa>tih} al-Gaib,,,. Jilid 2, hlm. 135.
                [51] Fakhr al-Di>n al-Ra>zi>. Mafa>tih} al-Gaib. Al-Maktabah al-Syamilah. Ridwana Media. Jilid 2. hlm 135.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar