Translate

Sabtu, 19 April 2014

UN: Tantangan Besar atas Makna Filosofis Pendidikan


Oleh: Arif Nuh Safri, S. Th. I, M. Hum.

            Pada tanggal 15 April yang lalu, UN sudah dilaksankan untuk siswa SMA sederajat di negara ini. Namun demikian, kedatangan UN tetap menjadi momok tersendiri bagi setiap pelaku pendidikan di Indonesia. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai macam kegiatan tambahan bagi siswa di sekolah, seperti penambahan materi, try out, maupun pemadatan materi dan atau bahkan bimbingan belajar di berbagai lembaga pendidikan berani memberikan dan menawarkan berbagai layanan khusus dengan jaminan kelulusan UN atau setidaknya kembali duit.
            Terlepas dari masih adanya kontroversial tentang pelaksanaan UN di negara kita, ternyata UN telah berlangsung lama di negara ini dan selama itu pula menyimpan berbagai masalah yang tak kalah pelik. Permasalahan ini setidaknya muncul dari tiga sudut, yaitu tenaga pendidik, peserta didik, dan tidak kalah pentingnya adalah realita yang menerpa pendidikan itu sendiri.
            Dalam tulisan ini, penulis tidak akan menjelaskan tiga permasalahan di atas secara panjang lebar. Oleh sebab itu, tulisan ini sengaja diharapkan untuk menyoroti realita pendidikan itu sendiri yang kemudian dikaitkan dengan tantangan UN terhadap makna filosofis pendidikan itu sendiri. Di sisi lain penulis tidak ingin menyatakan bahwa kompetensi pendidik dan peserta didik di negara kita masih kurang atau tidak mumpuni.
            Realita pendidikan yang ada di Indonesia secara ril dan nyata bahwa memang masih sangat jauh dari layak. Jangankan sekolah-sekolah yang berada di daerah terpencil dan masih jauh dari efek globalisasi, ternyata sekolah-sekolah yang terhitung relatif dekat dengan pemerintahan pun masih seringkali luput dari perhatian, sehingga tidak jarang terlihat di media masa tulis maupun media elektronik, kabar infrastruktur sekolahan yang roboh dan tidak layak pakai lagi. Di sisi lain, pemerataan sarana dan prasarana pendidikan juga belum bisa diwujudkan yang notabene merupakan tanggung jawab pemerintah sebagai pengendali pendidikan, sehingga sangat naif kalau pemerintah menyetarakan dan memaksakan UN sebagai salah satu syarat kelulusan siswa.
            Dengan berbagai permasalahan yang muncul dari realita pendidikan yang ada, maka tidak bisa dipungkiri akan muncul permasalahan yang lebih fundamental, yaitu “krisis kejujuran”. Peserta didik dipaksa bagaikan robot untuk mencapai hasil pendidikan yang sesuai dengan keinginan pemerintah sendiri agar setara dengan negara-negara maju lainnya, sementara pada saat yang sama mereka juga tidak pernah membuka mata, telinga dan hati pada seluruh permasalahan yang muncul. Mulai dari peristiwa infrastruktur yang roboh, peristiwa siswa yang harus berperan bagai film “Indiana Zone” yang berjuang melewati jembatan gantung roboh, peristiwa siswa yang berjuang menyeberangi arus sungai deras dan harus berjalan kaki menempuh jarak yang jauh dan berkilo meter.
            Dengan demikian, tak pelak bahwa tantangan yang sama di setiap tahun pelaksanaan UN akan terus berlanjut sampai saat yang tidak pasti, yaitu permasalahan fundamental makna pendidikan itu sendiri yang menyebabkan munculnya benih-benih “krisis kejujuran”.
            Pendidikan dalam bahasa latin disebut dengan educare yang secara harfiah dimaknai dengan “menarik keluar dari”. Sehingga pendidikan adalah sebuah aksi nyata yang membawa seseorang keluar dari kondisi tidak merdeka (perbudakan), tidak dewasa, ketergantungan, ketidak jujuran menuju situasi merdeka, dewasa, mandiri (menentukan diri sendiri), dan bertanggung jawab serta jujur. Oleh sebab itu, dengan pendidikan diharapkan manusia diciptakan bukan untuk siap kerja, namun berwatak siap belajar terus, dan siap mengadakan transformasi sosial karena sudah mengalami transformasi terlebih dahulu lewat pendidikan.
            Oleh sebab itu, tantangan terbesar UN pada tahun ini dan mungkin pada tahun-tahun yang akan datang adalah bagaimana UN dibangun sebagai media untuk memperkuat makna filosofis pendidikan itu sendiri, sehingga pada UN ini diharapkan peserta didik bisa keluar dari kebohongan, kecurangan atau ketidak jujuran. Dengan demikian, selayaknya target bagi para pengendali pendidikan pada saat ini adalah, tidak hanya lulus 100 % dengan patokan nilai semata, namun juga jujur 100 %. Mudah-mudahan

Minggu, 13 April 2014

Surga yang Kosong


Surga tetap menjadi perebutan dari setiap penganut agama yang ada di muka bumi ini. Umat Yahudi berkata bahwa mereka yang paling berhak untuk masuk surga. Umat Nasrani juga demikian, dengan percaya diri mengklaim sebagai umat yang paling berhak untuk masuk surga Tuhan. Tidak kalah dengan dua agama samawi di atas, umat Islam (pengikut Muhammad) juga berkeyakinan besar adalah sebagai ummat yang paling berhak dan paling benar untuk mengeyam nikmat surga Tuhan di akhirat kelak.
            Setiap pemeluk agama pasti memiliki alasan dan argumen tersendiri. Bahkan lebih dari itu, doktrin dan dogma demikian telah menjadi hal yang sudah termaktub dalam kitab masing-masing sesuai dengan paradigma masing-masing pula. Kalau begitu halnya, lantas siapa yang akan masuk surga kelak? Apakah memang Tuhan menyediakan surga bagi setiap pemeluk agama masing-masing? Umat Yahudi masuk surga Yahudi, umat Nasrani masuk surga Nasrani, dan umat Islam (pengikut Muhammad) masuk surga Islam, atau semuanya masuk dalam surga yang sama, yaitu surga Tuhan? Atau bahkan tidak ada di antara umat pemeluk agama yang masuk surga karena telah dibagi-bagi oleh kerakusannya masing-masing, sehingga lahannya tidak cukup lagi untuk menampung, seperti halnya mereka lakukan ketika hidup di bumi Tuhan, yaitu berebut harta, tanah, tahta di bumi Tuhan ini?
            Saya sepertinya lebih cenderung pada pilihan terakhir, bahwa pada akhirnya memang tidak ada manusia yang akan masuk surga nantinya, karena Tuhan gerah dan marah melihat kondisi makhluk-Nya yang masih saja rakus dan tamak serta lebih mengedepankan ego masing-masing. Sehingga pada akhirnya kelak surga menjadi kosong, ompong melompong karena tidak ada yang layak untuk memasukinya, kecuali hanya para utusan Tuhan yang telah terpilih.

Mayoritas yang Minoritas


Mayoritas bangsa Indonesia adalah orang miskin, namun menjadi minoritas karena tidak punya kekuatan dan kekuasaan. Mayoritas negara kita adalah air atau lautan, hingga 2/3, namun ternyata orang yang tinggal di daerah perairan tersebut menjadi minoritas, nir pendidikan, nir perhatian, nir kesejahteraan. Negara kita dikenal dengan negara agraria, itu artinya juga mayoritas masyarakatnya juga bekerja di agraria, namun ternyata minor beras hingga harus impor, bahkan karena pemerintah tidak mampu menjamin pangan beras rakyatnya, sekarang ada istilah gerakan tanpa beras sehari? Kesalahan pemerintah yang tidak mampu menjamin kesediaan pangan, malah rakyat yang harus dipaksa untuk meninggalkan beras.
            Negara maritim, yang daerahnya mayoritas lautan, ternyata juga tidak mampu memaksimalkan swadaya garam. Sehingga juga harus impor, yang menyebabkan rakyat pekerja tradisional produksi garam semakin terlilit dan tercekik karena kalah saing dengan garam murah dari luar negri.
            Mayoritas masyarakat kita adalah orang ramah, sopan dan murah senyum, sehingga konon katanya orang-orang atau para turis manca negara harus menyediakan obat anti encok, dan pegal hanya karena kelelahan menerima sapaan dari orang-orang pribumi, yang menyebabkan mereka harus sedikit membungkuk. Tapi kenapa bisa kalah dengan orang minoritas yang sudah menghilangkan nilai-nilai peradaban atau nilai-nilai ke-Indonesiaan tersebut? Buktinya, hampir setiap hari terjadai kekerasan horizontal, baik antar siswa, antar mahasiswa, antar warga, antar warga dan aparat?
            Mayoritas yang naik haji setiap tahunnya ke Makkah adalah orang Indonesia. Minimal ratusan ribu warga Indonesia ikut memadati ibadah Haji. Ini artinya, bahwa Indonesia sebenarnya bukanlah negara yang miskin amat, atau juga bisa jadi, karena ada orang yang rakus ingin beribadah sendirian berulang kali, sehingga mengabaikan tetangganya yang morat-marit dan menderita menahan lapar. Kalaulah seandainya, orang individualis tersebut mau menghilangkan sejenak egonya untuk tidak naik haji untuk yang kesekian kali, setidaknya dia sudah mampu membantu tetangganya minimal 30 orang dan mendapatkan uang satu juta/orang. Atau juga membangunkan usaha mandiri untuk memaksimalkan potensi tetangganya sehingga tidak lagi terjadi kemiskinan.
            Bukankah Rasul selama hidupnya sebenarnya memiliki kesempatan untuk naik haji 8 kali semenjak disyari’atkannya ibadah haji? Namun kenapa pula, rasul hanya melaksanakan Ibadah haji 2 kali dalam hidupnya. Itupun, salah satunya karena kepentingan sosial pada saat itu, sehingga dikenal dengan haji wada’. Haji wada’ ini dimanfaatkan oleh Rasul sebagai momentum membangun solidaritas umat ketika itu di khutbah ‘Arafah. Kenapa, rasul tidak pernah memberikan embel-embel haji pada namanya? Sementara di Indonesia, bisa jadi menyebabkan kemurkaan atau kemarahan, jika namanya disebut tanpa menyebut haji sekaligus. Haji bukan identitas, tapi nilai spiritual, haji bukan status, tapi moral, haji bukan kebanggaan, tapi ketawadhu’an, haji bukan fisik, tapi batin. Haji bukanlah tempat singgah, tapi puncak dari segala tujuan. Haji bukanlah media curhat sama Allah ketika akan bercerai, ketika karir terancam, tat kala ingin ikut Pilkada dan lain-lain, namun haji adalah ibadah tanpa keluh kesah, ibadah perjalan batin dan spiritual, ibadah fisik dan psikis.     

Membangun Prinsip Hidup “Sadar Diri”


Di masa-masa bulan politik seperti saat ini, mungkin istilah “sadar diri” memang kurang dikenal. Namun demikian, alangkah indahnya persaingan politik di negara kita ini jika prinsip ini bisa terbangun dalam setiap calon pemimpin. Dengan prinsip ini, tentunya tidak akan ada calon pemimpin yang saling sindir, saling menghujat, dan saling tuding.
Prinsip “sadar diri”, jika dikaitkan dengan bahasa indah dari seorang Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib bisa dimaknai sebagai berikut: “istanthiq qalbaka” (ajak bicara kalbu atau nuranimu). Sadar diri akan terwujud jika, setiap manusia mampu mengajak bicara kalbu dan nurani masing-masing, karena nurani tidak akan pernah berbohong. Apa pun yang memunculkan keresahan dalam jiwa, maka itu adalah kesalahan, dan apapun yang membuat ketenangan jiwa, maka itulah kebenaran dan kebaikan.
Kaitannya dengan dunia politik saat ini, bisa dibayangkan seandainya setiap calon pemimpin sama-sama sadar diri, dan berbicara dengan nuraninya. Kesadaran akan kelemahan sekaligus kelebihan orang lain, akan memciptakan calon pemimpin yang berjiwa besar. Sebaliknya, seseorang yang tidak mampu berbicara dengan nuraninya, akan menyebabkan lupa diri dan arogan terhadap orang lain serta penuh kebohongan dan kedustaan pada diri sendiri. Karena ia akan mengatakan ia mampu di balik kelemahannya, mengaku pintar di balik kebodohannya, mengaku jujur di balik kebohongan dan kedustaannya, mengaku terpercaya di balik pengkhianatannya.
Betapa indah negara kita, jika para calon pemimpin kita saling introspeksi diri hingga akhirnya sadar diri, kemudian ekstrospeksi pada calon pemimpin lain sebagai perbandingan. Dalam pada itu, para calon diharapkan melakukan dialektika positif dan bermartabat, sehingga di antara para pemimpin pun bisa menentukan siapa yang paling berhak dan paling bagus untuk menjadi pemimpin. Bagaimana mungkin negara ini tidak maju, jika antarpemimpin saling berbesar hati untuk mengakui kelemahannya sekaligus mengukuhkan orang yang dianggapnya lebih unggul dan pantas darinya.
Sadar diri, jika dipandang sebelah mata memang bukanlah hal yang mudah, dan bahkan bisa dikatakan sesuatu yang mustahil. Namun demikian, hal semacam ini bukanlah sesuatu yang tidak pernah terjadi di masa lalu. Pada saat umat Islam kehilangan figur Nabi Muhammad saw., umat Islam ketika itu kebingungan untuk mencari penggantinya. Sehingga pada saat itu, kaum Anshor mengadakan musyawarah, hingga pada akhirnya kaum Muhajirin pun datang. Singkatnya, pada saat itu, para kaum Anshor mengunggulkan Abu ‘Ubaidah dan Muhajirin cenderung mempercayai ‘Umar bin Khattab sebagai pengganti Rasul sebagai pemimpin umat Islam. Namun, dengan besar hati, prinsip sadar diri atau berbicara dengan nurani dimunculkan oleh ‘Umar bin Khattab dan Abu ‘Ubaidah di depan umat Islam ketika itu. Dengan besar hati, mereka berudua mengakui kelemahannya sekaligus mengukuhkan kehebatan dan keunggulan Abu Bakr Ashshiddiq sebagai calon pemimpin yang lebih pantas untuk menggantikan Nabi Muhammad pada saat itu. Tanpa banyak perbedaan pendapat, Abu Bakr Ashshiddiq pun tepilih sebagai khalifah pertama atau pengganti pertama Nabi Muhammad sebagi pemimpin umat Islam.
Dalam konteks negara kita Indonesia, berharap para calon pemimpin kita nantinya bermusyawarah bersama melakukan dialektika politik bermoral dan bermartabat untuk membangun prinsip hidup “Sadar Diri” sehingga mampu membuat kesimpulan siapa di antara mereka yang paling pantas dan unggul untuk menjadi pemimpin Indonesia di tahun 2014-2019. Setidaknya, kalaupun tidak mungkin akan menyimpulkan sebuah kesepakatan bersama pada sosok tertentu, namun bersama-sama memberikan komitmen untuk membangun bangsa dengan transparan. 

Rabu, 12 Juni 2013

Tuhan, Agama-Mu Apa?

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa”

Demikian pengakuan Allah dalam salah satu potongan ayat atau bagian sangat kecil dari kitab al-Qur’an untuk menjelaskan bahwa keberagaman adalah sunnah Allah yang sudah tidak bisa dipungkiri oleh apa dan siapapun. Banyak agama di muka bumi ini. Mulai dari agama-agama besar, Nasrani, Islam, Yahudi, hingga agama-agama kecil lainnya. Setiap agama meyakini Tuhan, dan setiap agama memiliki konsep Tuhan yang berbeda-beda pula. Namun di samping itu, ada satu hal yang mungkin sama, yaitu bahwa setiap agama meyakini bahwa Tuhan adalah pencipta langit dan bumi beserta isinya.
Islam mengenal Tuhan dengan nama Allah, Nasrani mengenal Tuhan dengan nama Allah (dibaca Alah), Yahudi mengenal Tuhan dengan sebutan Yahwe, dan lain-lain. Masing-masing agama memiliki sebutan tersendiri sesuai dengan keyakinan dan intinya menibulkan ketulusan dan keikhlasan.
Apakah benar kalau Tuhan hanya menginginkan manusia menjadi seragam? Kalau benar, kenapa toh pada kenyataannya manusia ini beragam atau multi dimensi? Apakah karena Tuhan tidak mampu menyeragamkan makhluk-Nya? Tentunya tidak sama sekali. Kalau setiap agama, setiap individu meyakini bahwa Tuhan Maha Kuasa, pastinya Tuhan akan menjadikan makhluk-Nya seragam, semua laki-laki, atau semua perempuan, atau semua tidak memiliki hidung misalnya. Tapi itupun tidak sama sekali. Lantas apakah memang Tuhan juga pada hakikatnya tidak menginginkan keberadaan agama lain di muka bumi ini selain Islam? Kalau begitu, kenapa Yahudi masih ada, kenapa Nasrani juga tetap eksis? Berarti Tuhan menginginkan keberadaan agama yang lain kan?
Bagai saya, agama secara formal bukanlah tolok ukur untuk jaminan mendapat kasih sayang Tuhan, agama secara formal bukanlah ukuran untuk berhak merasakan dan mendapatkan surga. Surga adalah tempat yang dijanjikan oleh Tuhan untuk seluruh makhluk-Nya, tanpa pandang ras, jenis kelamin, suku, warga negara, dan bahkan agama sekalipun. Tapi yang berhak masuk surga adalah mereka yang mampu memberikan kasih sayang pada makhluk Tuhan, sekaligus menyerahkan diri secara total dan mutlak pada Tuhan yang Maha Kuasa. Kapanpun manusia merasa berhak masuk surga hanya karena agama, maka sebenarnya dia sudah melanggar kodrat atau sunnah Allah yang menciptakan makhluk-Nya yang terdiri dari beragam agama. Tat kala manusia merasa paling berhak merasakan nikmatnya surga hanya karena merasa paling saleh, maka dalam waktu yang sama dia adalah pengikut Iblis yang pertama kali melakukan kesombongan yang hakiki.
Apakah tidak bisa, kalau kita berjalan bersama menuju Tuhan melalui jalan yang berbeda? Apakah kita sebagai manusia, tidak bisa menghargai keberadaan makhluk Tuhan yang lain untuk merasakan nikmatnya surga?     Kalaulah seandainya di akhirat nanti, kita masuk surga dan duduk bersama dengan orang yang menganut dan meyakini agama lain, akankah kita melakukan demonstrasi pada Tuhan dan menuntut agar mereka masuk neraka? Kalau demikian halnya, dimana letak keikhlasan kita untuk mengabdi dan menghambakan diri pada Tuhan? Apakah kita juga akan protes dengan keberadaan orang lain di surga nanti? Saya rasa tidak mungkin, buktinya hanya dikasih duit sogokan, hanya arena ditawarin rumah mewah, hanya karena dikasih kursi jabatan yang notabene merupakan kenikmatan semu di dunia saja, kita sudah tergiur dan lupa akan Tuhan. Bagaimana mungkin mau protes lagi kalau seandainya Tuhan nanti memberikan kenikmatan surga? Pasti sudah terlena, dan lupa dengan orang lain.
Pada akhirnya, mari kita sama-sama jalani agama kita masing-masing, kita yakini agama kita masing-masing. Dan kalau perlu di akhirat kelak, kita bertanya: “Tuhan Agama-Mu Apa?”

Dan Tuhan pun Berdialog dengan Iblis

Dan Tuhan pun Berdialog dengan Iblis
    Iblis sampai kapan pun akan selalu dikenal oleh manusia sebagai musuh abadi. Pemahaman atas kutukan Tuhan terhadap Iblis semacam ini tentunya dikenal dalam keyakinan setiap agama di muka bumi ini, terebih-lebih dalam agama samawi (Yahudi, Nasrani, Islam) kerena di berbagai kitab agama samawi manapun Iblis dikenal sebagai penyebab terperosoknya manusia ke lembah kehinaan, bahkan agama non samawi sekalipun masih menyatakan secara tegas sosok Iblis yang seram dan menakutkan. Kalau dibandingkan dengan Tuhan, tentunya Iblis tidak ada apa-apanya, karena Tuhan selalu pasti Yang Maha Besar, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kaya dan berbagai Maha yang lainnya. Namun demikian, sering kali manusia lupa kalau Tuhan juga Maha Dialogis. Lihat saja contohnya ketika Iblis disuruh oleh Tuhan untuk sujud kepada Adam, dengan kesombongannya, Iblis tidak mau dan menolak hanya karena merasa lebih mulia dan agung daripada Adam.
    Namun demikian, Tuhan yang Maha Besar, kok gak mau ya memaksa Iblis? Coba kalau seandainya Tuhan juga egois, pasti saat itu Iblis dimatikan atau dicabut nyawanya seketika, atau kata lainnya dipencet sampai hangus. Tapi menurut penulis sih, karena memang Tuhan Maha Dialogis, Dia tidak mau seenaknya saja, hanya gara-gara masalah pribadi harus menggunakan kekuasaannya semena-mena. Selain itu, kalau Tuhan juga hanya gara-gara permasalahan pribadi dengan Iblis, kemudian serta merta menggunakan kekuasaannya, berarti Tuhan “sentimentil” donk?
    Nah, bandingkan coba dengan kisah-kisah manusia saat ini. Kita lihat saja kisah biadab sekelompok manusia yang punya kuasa yang seenaknya saja membunuh orang lain, padahal nyawa pemberian Tuhan, kalau pemberian nenek moyangnya sih masih bisa ditolerir, tapi nyawa kita kan pemberian Tuhan, tapi kok berani ya ngambilnya dari orang lain? Nyawa cuma satu, tapi karena gara-gara gak punya power atau kekuasaan, jadinya gak berarti, murah dan gak bisa diperjuangkan apalagi harus dihargai. Apa memang karena para penguasa berfikir kalau nyawa itu bisa diganti rugi ya???? Hahaha, kayaknya sih memang seperti itu, buktinya kita sering dengarkan ada dana kompensasi atau ganti rugi bagi korban jiwa. Dana kopensasi simbah atau nenek moyang mereka kali ya.....
    Dari masa ke masa ternyata manusia Indonesia semakin beringas dan haus darah. Bangsa yang dulu dikenal ramah, sopan dan suka gotong royong, ternyata sekarang menjadi bangsa yang egois, individualis, dan suka menggotong harta dan nyawa orang lain. Dari kasus makam mbah priok, kasus Ahmadiyah, kasus Mesuji, kasus Bima, kasus Pesantren di Sampang, kasus Gereja di Bekasi sampai adanya kasus penikaman terhadap pendeta ketika akan melaksanakan ibadah, kasus pengusiran secara brutal terhadap seminar yang diadakan di berbagai daerah dengan Irshad Manji atau bedah buku “Allah, Love and Liberty yang sampai melakukan hal anarkis seperti pengrusakan fasilitas di kantor LKis. ”Wah,,,, wah,,, wah,,,, miris rasanya melihat kenyataan seperti ini. Katanya orang Indonesia sopan, santun, masyarakat gotong royong? Tapi masalah kemanusiaan selalu saja terjadi.. Parahnya lagi ini ya.... dilakukan oleh orang berseragam gagah, berwibawa, suaranya lantang. Ya iyalah, kan mereka memang latihannya seperti itu? Coba kalau mereka dilatih jalan-jalan memberi makan orang miskin, dilatih solat jama’ah dan zikir bersama, beribadah ke gereja dengarin khotbah kedamaian, dibawa ke pura untuk semedi mendengar kata hati nurani, pasti mereka juga tidak akan berani memukul orang lain, membabi buta menembaki orang lain, apalagi membiarkan orang terbunuh di bawah kaki mereka. Tapi, gak tau juga ya, buktinya ada juga orang yang berjenggot panjang, celana congklang, jubah putih, sorban putih membunuh orang. Ngakunya sih orang beriman dan pengikut ajaran Nabi secara setia dan murni dan tulus....
    Kalau orang bilang sosok semacam ini adalah orang yang taat beribadah, namun menjadi pesaing dalam kehidupan sosial. Makanya mereka takut banget kalau Tuhan mereka direbut orang, nabi mereka diambil orang. Hahahaha, lucu memang ya, katanya Tuhan mereka Maha Kuasa, tapi ko takut kalau ada orang yang mengakui Tuhan mereka sebagai sembahan orang lain.
    Anehnya lagi, kok keberagamaan orang dinilai dari jenggot panjang ya? Padahal kan jenggot itu milik siapa saja, mana ada ya surat izin khusus untuk memiliki jenggot dari Tuhan? Apa memang jenggot milik golongan ya? Katanya jenggot adalah lambang kesalehan orang muslim... Aneh sekali ya... kalau sekarang kan orang berjenggot banyak sekali. Kalau melihat ini, saya jadi teringat dengan sebuah film “Valley of Wolves Palistine”, ternyata jangan salah lho, pemeran aktor pemimpin zionis Israel yang membabi buta karena rasa dendam kepada perjuangan orang Palestina punya brewok, jambang, jenggot (tapi tipis sih). Terus, kalau lambang kesalehan juga dilihat dari jubah, dan sorban, itu kan memang pakaian biasa orang Arab, jangankan Nabi Muhammad dan para sahabat, Abu Jahal, Abu Lahab juga pakai sorban dan jubah lho. Bahkan mungkin lebih tebal dan lebih panjang dari jubah orang biadab yang ada di Indonesia ini yang berani mengumandangkan “Allohu Akbar” ketika membunuh orang lain. Orang Indonesia biadab itu seenaknya memakai “atribut Islam” pada saat kerusuhan dengan Ahmadiyah, melompat keatas, dan kemudian menginjakkan kakinya di atas badan orang yang sudah terkapar.
    Adalagi kasus celana congklang yang lebih seru.... Celana congklang itu juga dijadikan sebagai lambang kesalehan. Katanya sih biar gak sombong. Mang apa kaitannya ya, antara hati dan celana congklang. Bukannya ketika orang memakai sesuatu untuk merasa tidak sombong menjadi bukti kesombongan tersembunyi? Iya gak seh? Coba aja bayangin, orang memakai sesuatu, dan kemudian merasa tidak sombong, hayo???? Itu berarti dia sombong kan dengan ketidak sombongannya??? Oya, tadi saya bilang kalau ada tragedi yang aneh dan paradoks di Indonesia ini. Celana congklang lambang kesalehan itu sering lho penulis lihat dipakai oleh anak-anak Punk. Anehnya, anak-anak Punk di Aceh malah ditangkapin tu... Katanya gak Islami atau melanggar syari’at.
    Nah, kalau gitu urusannya, berbagai lambang kesalehan itu sebenarnya bukan hal yang paling krusial untuk diperdebatkan. Masalah agama ko dikaitkan dengan celana congklang, jubah putih tebal dan panjang, jenggot dan berbagai atribut lainnya. Pada akhirnya kita terbentur sendiri kan dengan fenomena sosial yang ada. Oleh sebab itu, serahkan ajalah urusan agama pada individu masing-masing. Gak usah terlalu sombong dengan kekuasaan kecil. Katanya Tuhan Maha Kuasa, kalau begini caranya berarti kita sudah mengambil kekuasaan Tuhan dunk... Baru jadi Polisi, pengusaha, Bupati, Gubernur, Presiden sudah merasa menjadi tuhan kepada kaum miskin dan minoritas. Mentang-mentang agama mayoritas, seolah-olah sudah jadi merasa paling benar, dan memiliki mandat dari Tuhan untuk mengintimidasi kaum minoritas.
    Sudahlah, cukup sampai di sini kesombongan ini, dan marilah kita hidup bersama, dan berdampingan. Tuhan saja mau kok berdialog dengan Iblis, masa kita sebagai manusia tidak bisa dialog sih? Katanya manusia makhluk paling sempurna yang memiliki akal dan pikiran dan juga makhluk dialogis?????

Kamis, 18 April 2013

Pelihara Anjing Pun Pintu Surga


                   Kisah ini terdapat dalam karya Imam al-Bukhari, jilid 1, halaman 75, nomor 171, dan dalam kitab karya Imam al-Muslim jilid 15, halaman 76, nomor 5997.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِيْ بِطَرِيْقٍ اِشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطْشُ. فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيْهَا فَشَرِبَ, ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ, يَأْكُلُ الثَّرَى, فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلَ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي, فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ مَاءً, ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ, حَتَّي رَقَي فَسَقَي الْكَلْبَ, فَشَكَرَ اللهُ لَهُ, فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! إِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجَرًا؟ فَقَالَ: فِي كُلِّ كَبِدٍ رُطْبَةٍ أَجْرٌ.
   Artinya:
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda: “Ketika seseorang berjalan, ia mengalami rasa haus berlebihan. Ia pun menemukan sebuah sumur, kemudian ia turun dan minum darinya. Setelah itu, ia keluar dan menemukan seekor anjing menjulurkan lidah karena haus dan memakan rumput. Seseorang tersebut berkata: 'Sesungguhnya anjing ini mengalami haus yang berlebihan sebagaimana aku rasakan'. Kemudian ia turun lagi ke sumur dan mengisi sepatunya dengan air, dan menahannya di mulutnya hingga naik ke atas kembali, dan kemudian memberi minum anjing tersebut hingga menghilangkan hausnya. Maka Allah pun mensyukurinya dan mengampuni dosa-dosanya. Para sahabat bertanya: 'Wahai Rasulullah, berarti di semua binatang peliharaan kami ada ganjaran? Rasul menjawab: 'Setiapnya ada balasan dan ganjaran.'

 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا
     Artinya:
Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw: “Sesungguhnya seorang wanita pelaku dosa melihat seekor Anjing di tengah-tengah hari yang sangat panas berada di dekat sebuah sumur. Anjing tersebut menjulurkan lidahnya karena kehausan, maka si wanita tersebut melepas sepatunya dan memberi anjing itu minum, maka Allah mengampuninya”

Mutiara Kisah
1.      Seekor anjing sekalipun bisa menjadi pintu surga bagi siapapun yang berbuat baik. Karena bagaimanapun juga, segala makhluk Allah akan senantiasa bertasbih pada-Nya, hanya saja kita tidak bisa memahaminya, maka tidak salah jika Allah juga memberi ampunan bagi hamba-Nya yang menolong makhluk-Nya.
2.      Hadis ini sekaligus sebagai dalil bahwa, berbuat baik pada binatang yang diharamkan Allah untuk dikonsumsi sekalipun adalah tetap sebagai kebaikan di mata Allah.
3.      Berbuat baik pada binatang adalah sebagai bukti bahwa agama Islam adalah rahmat bagi semesta alam, karena makna ‘alam adalah “ma siwa Allah”, yaitu, segala sesuatu selain Allah.
4.      Sebagai seorang muslim, hendaknya segala yang ada dalam diri, baik pikiran, ucapan, maupun perbuatan harus dialndasi dengan cinta dan kasih sayang, sebagai manifestasi rahmatan lil ‘alamin.
5.      Dalam kisah ini, perlu kita hayati dan hidupkan kembali paradigma persaudaraan yang lebih universal, yaitu al-ukhuwwah al-khalqiyyah (persaudaraan sesama makhluk), di samping juga al-ukhuwwah al-nasabiyyah (persaudaraan sedarah), al-ukhuwwah al-wathaniyyah (persaudaraan sebangsa atau senegara), dan al-ukhuwwah al-islamiyyah (persaudaraan seakidah).